Keadaan Agama-agama yang Pernah Ada
Agama-agama besar, kitab-kitabnya yang
lama serta syari’at-syari’atnya yang usang menjadi buruan bagi orang-orang yang
suka berbuat usil dan mempermainkan, ia pun menjadi mainan bagi para perubah
(syari’at) dan orang-orang munafik, juga menjadi pemicu terjadinya berbagai
peristiwa berdarah serta malapetaka besar. Ia kehilangan ruh dan bentuknya,
sehingga kalau seandainya para pemeluknya yang pertama dan juga rasul-rasulnya
dibangkitkan, niscaya mereka akan mengingkari dan mengatakan ketidak tahuannya akan agama tersebut.
Agama yahudi* –dewasa ini-
tak ubahnya hanya sekumpulan simbul dan adat istiadat yang kosong dari ruh dan
kehidupan, ia –disamping semua itu- merupakan agama turun temurun yang khusus
bagi kaum dan jenis tertentu, ia tidak membawa suatu risalah yang umum bagi
seluruh alam ini, atau dakwah bagi seluruh umat, serta tidak pula membawa
rahmat bagi segenap umat manusia.
Keaslian aqidah agama ini telah
ternodai, padahal dulu ia adalah symbol dikenal dihadapan seluruh agama dan
umat. Tadinya ia memiliki rahasia kemuliannya, yaitu aqidah tauhid yang telah
diwasiatkan oleh Ibrahim kepada putranya Ya’qub . Yahudi telah menukil banyak
dari aqidah umat-umat yang rusak, mereka adalah umat yang tinggal berdekatan
dengannya ataupun juga mereka yang berada dibawah kekuasaannya. Kebanyakan
diambil dari kebiasaan dan taklid para penyembah berhala jahiliyah. Yang
seperti ini telah diakui oleh ahli-ahli sejarah yahudi yang jujur, disebutkan
dalam “Dairotul ma’arif al-yahudiyah” yang maknanya: “Sesungguhnya
kemurkaan dan kemarahan para nabi dalam permasalahan ibadah terhadap berhala
menunjukkan bahwa perkara penyembahan berhala dan tuhan-tuhan telah merasuk
pada jiwa orang-orang Israel ,
mereka telah menerima keyakinan-keyakinan syirik dan khurafat. Sesungguhnya
Tulmudpun telah bersaksi bahwa berhala memiliki tarikan khusus bagi Yahudi”.
Tulmud Babil –yang terlalu
dilebih-lebihkan oleh yahudi dalam pemuliannya, terkadang lebih mereka utamakan
dari taurat, ia tersebar dikalangan yahudi pada abad ke enam, ia dipenuhi oleh
contoh-contoh aneh yang dilemahkan akal dan mudah diucapkan, berani menentang
Allah, tidak sungguh-sungguh dengan kebenaran serta mempermainkan agama dan
akal- menunjukkan kepada apa yang telah dicapai oleh masyarakat yahudi pada
abad ini, berupa kemunduran akal dan kerusakan sensitifitas keagamanya.
Adapun Nasrani*, ia telah
dicoba dengan dirubah oleh orang-orang yang melampaui batas, dita’wil oleh
mereka yang bodoh dan juga terpengaruhi oleh penyembah berhala Roma yang masuk
Kristen, sejak zaman pertamanya, setiap dari mereka menjadi penyusun,
didalamnya dipendam ajaran al-masih yang agung, cahaya tauhid dan keikhlasan
beribadah kepada Allah menjadi samar di belakang gumpalan awan penyimpangan
yang tebal ini.
Seorang penulis Nasrani berbicara
tentang jauhnya gejolak aqidah trinitas dalam masyarakat Kristen, sejak akhir
abad keempat miladi, dia berkata: “berkecamuk keyakinan bahwa tuhan yang satu
tersusun dari tiga unsur dalam seluruh kehidupan alam masehi dan pemikirannya,
sejak akhir abad keempat, ia tetap
menjadi aqidah resmi yang dipegang diseluruh penjuru dunia masehi, dan tidak
terungkap rahasia perkembangan aqidah
trinitash kecuali pada pertengahan kedua dari abad sembilan belas miladi.
Ahli sejarah Nasrani pada abad ini
berbicara dalam buku: “Tarikh masehi fi dhow’il ‘ilmil muashir” tentang
tampaknya unsur keberhalaan dalam masyarakat Nasrani dalam keadaan berbeda dan
beraneka ragam. Nasrani memperindah dalam menyadur ajaran, kebiasaan, hari raya
serta pahlawan para penyembah patung dari umat-umat dan agama-agama yang
mengakar pada kesyirikan dengan dalih taklid, kagum atau bodoh. Dia berkata:
“telah punah penyembah berhala, namun ia tidak dibuang secara keseluruhan,
bahkan masih berkecamuk dalam jiwa dan segala sesuatunya masih terus berjalan
dengan nama masehi dan dalam kelambunya. Orang-orang yang berlepas diri dari
tuhan mereka, pahlawan mereka dan berpisah darinya mengambil salah satu dari
mereka yang mati darinya, dan memberinya julukan dengan sifat-sifat ketuhanan,
kemudian mereka membuatkan patungnya. Demikianlah perpindahan kesyirikan dan
penyembahan patung kepada para pahlawan setempat, tidak sampai selesai abad
tersebut hingga tersebarlah penyembahan terhadap para pahlawan dan wali, maka
terbentuklah aqidah baru, yaitu bahwa para wali mengusung sifat-sifat
ketuhanan. Para wali beserta orang-orang yang
disucikan menjadi penengah antara Allah dengan manusia. Lalu mereka merubah
nama hari-hari perayaan terhadap berhala menjadi nama-nama baru, sehingga pada
tahun 400 miladi hari raya matahari lama menjadi hari raya kelahiran al-masih”.
Adapun Majusi, mereka telah dikenal
sejak dahulu kala dengan penyembahan terhadap unsur-unsur alami dan yang paling
besar bagi mereka adalah api, yang akhirnya mereka memutuskan untuk
menyembahnya, mereka membangun padanya patung dan tempat ibadah, menjadikan
rumah-rumah api semakin membanyak di seluruh pelosok negeri. Seluruh aqidah dan
keagamaan punah kecuali penyembahan kepada api dan pengagungan terhadap
matahari, bagi mereka agama hanyalah gambaran tentang tata cara dan adat yang
dilaksanakan pada tempat-tempat tertentu.
Pengarang “Iran
fi ahdi as-sasaniyyin” yang berwarga Negara Denmark , Arther Kristen Seen,
seorang punggawa agama dan pelayannya, dia berkata:
“pada mulanya merupakan suatu
kewajiban bagi para pelayan untuk menyembah matahari sebanyak empat kali setiap
harinya, disamping itu ditambah dengan menyembah bulan, api dan air, mereka
diperintahkan untuk tidak membiarkan api padam, api dan air jangan sampai
bertemu dan tidak membiarkan tembaga berkarat, karena tembaga merupakan suatu
yang suci bagi mereka”.
Mereka menjadi dekat terhadap
kekembaran pada setiap masa dan menjadi sebuah syi’ar bagi mereka, mereka
beriman kepada dua tuhan yang salah satunya cahaya atau tuhan kebaikan yang
dinamakan “Ahormazda” atau “Yazdan”, dan yang kedua adalah
kegelapan atau tuhan kejelekan, ia adalah “Aherman”. Pertikaian masih
terjadi diantara keduanya dan peperangan tetap berlangsung.
Sedangkan Budha –agama yang tersebar
di India dan Asia tengah- merupakan agama penyembah berhala yang selalu membawa
patung kemana saja mereka pergi, membangun pura dan meletakkan patung “budha”
ditempat yang tepat dan disinggahi.
Adapun al-barhamiyyah –agama India- , ia
telah dikenal dengan banyaknya sesembahan dan tuhan. Pada abad ke enam miladi
berhala telah mencapai puncaknya, pada abad ini tuhan berjumlah 330 juta,
segala sesuatu menjadi indah, segala sesuatu terpuji dan segala sesuatu
bermanfaat menjadi tuhan yang disembah, sehingga pemahatan patung semakin
meningkat dan pehias semakin memperindah.
Berkata: “C. Y. Wid” seorang India dalam
bukunya: “Tarikh Hindi al-Wustha” dia berbicara tentang raja Hers “606 – 648M”,
yang bertepatan dengan kemunculan Islam di jazirah arab:
“agama India dan Budha keduanya
sama-sama merupakan agama penyembah berhala, bahkan mungkin agama budha telah
melebihi agama India dalam permasalahan keberhalaan, yang mana permulaan agama
ini – budha – adalah meniadakan tuhan, akan tetapi secara berangsur menjadikan
“budha” sebagai tuhan terbesar, kemudian ditambahkan kepadanya tuhan-tuhan yang
lain seperti “Bodhistavas”. Berhala sampai memiliki kedudukan di India, bahkan
sampai kalimat “Buddha” menjadi sama dengan kalimat “berhala” atau “patung”
dalam beberapa bahasa di timur”.
Tidak diragukan lagi bahwa berhala
semakin merebak diseantero dunia pada masa kini. Seluruh
dunia mulai dari Lautan Atalantik sampai Laut Tengah telah dikuasai oleh
berhala. Seolah-olah agama masehi, samiyyah dan Buddha telah berlomba-lomba
dalam pengagungan serta pengkultusan berhala, seolah-olah bagaikan kuda
tergadai yang berlari dalam satu kotak.
Berkata
seorang India lain dalam bukunya yang diberi nama”: Al-hindukiyyah
as-saaidah”: (sesungguhnya permasalahan pembuatan tuhan) tidak selesai
sampai di sini. Tuhan-tuhan kecil masih terus digabungkan pada masa-masa
sejarah yang berbeda kedalam “kumpulan tuhan” dengan jumlah yang cukup besar,
bahkan ia sampai terkumpul melebihi ukuran dan tidak terjumlah.
Inilah
keadaan agama yang ada, adapun Negara-negara rapih yang tersusun padanya
pemerintahan-pemerintahan besar, tersebar padanya ilmu yang banyak, dan merupakan
ladang bagi kemajuan, industri dan adab, merupakan Negara yang agamanya telah
dirubah, keorisinalitasan dan kekuatanya sirnah, kehilangan penasehat dan
pendidiknya, didalamya merebak kekufuran, sehingga semakin banyak kerusakan,
berubah segala takaran, dan manusia jadi menghinakan dirinya sendiri, oleh
karena itu semakin banyaklah pelaku bunuh diri, hubungan kekeluargaan terputus,
dan hubungan kemasyarakatan jadi semakin hancur, klinik-klinik dokter jiwa
menjadi ramai dengan pasien, muncul pasar para pesulap, orang-orang mencoba
seluruh perkara yang dikatakan hiburan dan mengikuti seluruh cara yang
dikatakan baru… ; semua itu karena keinginan untuk menghilangkan dahaga yang
ada pada rohnya dan untuk menghibur diri serta untuk menenangkan hati. Seluruh hiburan,
rasa bosan dan berbagai macam pandangan belum berhasil merealisasikan apa yang
diinginkan, mereka akan tetap berada dalam kesusahan jiwa dan terus tersiksa
rohnya sampai dia mau berhubungan dengan penciptanya, menyembah-Nya sesuai
dengan manhaj yang diridhoi-Nya serta diperintahkan oleh rasul-Nya, Allah
berfirman dengan menerangkan keadaan orang yang berpaling dari Rabb-nya, dan
mengharap petunjuk selain-Nya:
"
ومن أعرض عن ذكري فإنّ له معيشة ضنكًا ونحشره يوم القيامة أعمى "
“...dan
barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan
yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
Dan firman-Nya ketika mengabarkan tentang keamanan
kaum mukminin serta kebahagiaan mereka dalam kehidupan ini:
" الذين آمنوا ولم يلبسوا
إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مّهتدون "
“Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),
mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah
orang-orang yang mendapat petunjuk”, serta firman-Nya:
" وأما الذين سُعدوا
ففي الجنة خالدين فيها ما دامت السموات والأرض إلاّ ما شاء ربّك عطاءً غير مجذوذ "
“Adapun
orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di
dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang
lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”.
Agama-agama di atas –selain islam-
kalau kita terapkan padanya ciri-ciri agama yang benar, sebagaimana yang telah
lalu, niscaya akan kita dapati bahwa unsur-unsur tersebut banyak yang tidak
ada, sebagaimana yang terlihat jelas dalam pemaparan singkat tentang
agama-agama tersebut.
Cacat terbesar yang ada dalam
agama-agama tersebut adalah tauhid kepada Allah SWT, para pengikutnya telah
melakukan kesyirikan kepada-Nya dengan tuhan-tuhan yang lain, sebagaimana juga
bahwa agama ini telah dirubah dan tidak mengedepankan syari’at yang tepat bagi
setiap zaman dan tempat, yang mana ia bisa menjaga bagi umat manusia agama,
kehormatan, keturunan, harta serta darah mereka, iapun tidak menunjukkan dan
mengarahkan mereka kepada syari’at Allah yang telah diperintahkan, juga tidak
mendatangkan ketenangan serta kebahagiaan terhadap pemeluknya, karena di dalamnya
terdapat berbagai macam pertentangan dan kebertolak belakangan.
Adapun Islam, maka akan datang pada
bab-bab berikut keterangan yang menjelaskan bahwasanya ia adalah agama Allah
yang hak, yang kekal nan diridhoi oleh-Nya dan diridhoi untuk dipeluk oleh umat
manusia.
Dalam penutupan alenia ini, sangat
tepat kalau kita memperkenalkan tentang hakekat dan tanda-tanda kenabian serta
kebutuhan manusia. Kamipun akan menjelaskan tentang pondasi-pondasi dakwah para
rasul dan hakekat risalah nabi penutup yang tetap ada.
* * * * * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar